Selamat Datang di Blog dsetianingsih.blogspot.com

Semoga apa yang saya posttingkan dapat bermanfaat untuk Anda semuanya,,, :)

Jumat, 03 Februari 2012

Strategi Pembelajaran_JG220C_292010082_Dewi Setianingsih

TEORI BELAJAR MENGAJAR
1. Teori Belajar
A. Pengetian Belajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku belajar, yaitu :
1.      Perubahan terjadi secara sadar.
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2.      Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya.
3.      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
Perubahan senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.
4.      Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
Perubahan bersifat sementara terjadi hanya untuk beberapa saat saja (misalnya, berkeringat, keluar air mata, menangis). Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat tetap dan permanen.misalnya seorang anak belajar bermain piano, kemampuan yang ia miliki tidak akan hilang begitu saja melainkan terus dimiliki dan berkembang jika terus dilatih dan dipergunakan kemampuannya bermain piano.
5.      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seseorang yang belajar  mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik atau tingkat kecakapan mana yang akan dicapainya.
6.      Perubahan mencakup semua aspek tingkah laku.
Seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya, jika ia belajar sesuatu. Contoh jika seseorang belajar naik sepeda, perubahan yang paling nampak ialah dalam keterampilan naik sepeda sepeda. Akan tetapi ia telah mengalami peubahan lain seperti pemahaman tentang cara kerja sepeda sepeda, jenis-jenis sepeda, kebiasaan membersihkan sepeda dan sebagainya.
B. Jenis-Jenis Belajar
1.   Belajar bagian (part learning fractioned learning)
2.   Belajar dengan wawasan (learning by insight)
3.   Belajar diskriminatif (discriminative learning)
4.   Belajar global/ keseluruhan (global whole learning)
5.   Belajar insidental (incidental learning)
6.   Belajar instrumental (instrumental learning).
7.   Belajar intensional (intentional learning).
8.   Belajar laten (latent learning).
9.   Belajar mental (mental learning).
10. Belajar produktif ( productive learning)
11. Belajar verbal ( verbal learning ).
C.  Teori-Teori Belajar
1.      Teori Gestalt
Teori ini dikemukakan oleh Koffka dan Kohler dari Jerman, yang mengemukakan bahwa dalam belajar yang penting adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Belajar yang penting bukan mengulangi hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Prinsip belajar menurut teori Gestalt :
•     Belajar berdasarkan keseluruhan
•     Belajar adalah suatu proses perkembangan
•     Siswa sebagai individu secara keseluruhan
•     Terjadi transfer
•     Belajar adalah reorganisasi pengalaman
•     Belajar harus dengan insight
•     Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan siswa
•     Belajar berlangsung terus menerus
2.      Teori Belajar Menurut J. Bruner
Bruner mementingkan partisipasi aktif dari setiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”, yaitu lingkungan di mana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan – penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian mirip dengan yang sudah diketahui. Dalam lingkungan, banyak hal yang dapat dipelajari siswa, yang dapat digolongkan menjadi enactive, iconinc, symbolic.
Dalam belajar, guru perlu memperhatikan 4 hal berikut ini :
-          Mengusahakan siswa berpartisipasi aktif, meningkatkan minat siswa dan membimbingnya.
-          Menganalisis struktur materi yang diajarkan dan disampaikan secara sederhana.
-          Menganalisis sequence.
-          Memberikan reinforcement dan umpan balik (feed back)
3.      Teori Piaget
Menurut Piaget, perkembangan proses belajar pada anak adalah sebagai berikut :
- Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa.Perkembangan mental pada anak melalui tahap – tahap tertentu.
-   Jangka waktu untuk berlatih pada setiap tahap tidaklah selalu sama pada setiap anak.
-   Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh  faktor, yaitu kematangan, pengalaman, interaksi sosial, dan equilibration (proses ketiga faktor untuk membangun dan memperbaiki struktur mental).
-          Ada 3 tahap perkembangan, yaitu berpikir secara intuitif (kurang lebih 4 tahun), beroperasi secara konkret (kurang lebih 7 tahun), dan beroperasi secara formal (kurang lebih 11 tahun).
4.      Teori R. Gagne
Gagne memberikan 2 definisi terhadap masalah belajar, yaitu : (1)Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. (2) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.Segala sesuatu yang dipelajari manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori yang disebut dengan “The domains of learning” yaitu keterampilan motorik, informasi verbal, kemapuan intelektual, strategi kognitif, dan sikap.
5.      Purposeful Learning
Purposeful learning adalah belajar yang dilakukan dengan sadar untuk mencapai tujuan dan yang :
-          Dilakukan siswa sendiri tanpa perintah atau bimbingan orang lain.
-       Dilakukan siswa dengan bimbingan orang lain di dalam situasi belajar- mengajar di sekolah.
6.      Belajar dengan cara mengamati dan meniru (observational learning and imitation)
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku baru dikuasai atau dipelajari mula – mula dengan mengamati dan meniru suatu model/contoh/teladan. Siswa yang suka meniru biasanya adalah siswa yang mempunyai rasa kurang harga diri, kurang kemampuannya, mempunyai sifat yang sama seperti model, dan berada pada suasana perasaan tertentu karena tekanan dari luar atau karena drugs.
7.      Belajar yang bermakna (meaningful learning)
Teori Ausubel terutama berlaku pada siswa yang sudah dapat membaca dengan baik dan yang sudah mempunyai konsep dasar dalam bidang pelajaran tertentu. Hal ini disebabkan oleh karena teori itu pertama – tama menekankan penguasaan belajar mula, retensi, transfer, dan variabel – variabel yang berhubungan dengan belajar semacam itu.
D.  Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar yaitu :
1.      Berdasarkan prasyarat yang diperlukan.
Ø  Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan intruksional.
Ø  Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan intruksional.
Ø  Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
Ø  Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
2.      Sesuai hakikat belajar.
Ø  Belajar itu proses kontinu maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
Ø  Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi, dan discovery.
Ø  Belajar adalah proses kontingulitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan response yang diharapkan.
3.      Sesuai materi/bahan yang harus dipelajari
Ø  Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
Ø  Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan intruksional yang harus dicapainya.
4.      Syarat keberhasilan belajar.
Ø  Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
Ø  Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.
II. Teori Mengajar
A.    Konsep Teori Mengajar
Konsep-konsep yang diterapkan dalam teori dan praktik mengajar akan mewarnai perkembangan dan karakteristik teori itu sendiri yang pada gilirannya merupakan bagian rumusan dari teori mengajar yang dibangun. Ramsden (1992;111-120) mengemukakan minimal ada 3 konsep teori mengajar dan praktik mengajar yang cenderung menjadi kajian para ilmuwan ataupun praktisi pendidikan yaitu :
a)      Theory 1 “teaching as telling or transmission”. Mengajar adalah proses menyampaikan atau mentransmisikan sesuatu. Konsep teori mengajar ini menekankan bahwa penyampaian bahan atau teachiong delivery merupakan hal yang dominan dalam mewarnai berbagai konsep dan praktik mengajar.
b)      Theory 2 “ teaching as organizing students activity”. Teori mengajar ini yang menyatakan bahwa mengajar pada dasarnya mengorganisasikan kegiatan siswa, dengan demikian focus kegiatannya adalah bagaimana mengorganisasikan agar siswa melakukan serangkaian aktifitas yang melahirkan pengalaman belajar.
c)      Theory 3 “ teaching as making learning possible”. Teori ini memandang bahwa belajar dan mengajar merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Teori ini memadukan antara dua teori sebelumnya.
B.     Teori-teori Mengajar.
-          Teori mengajar konsep.
Teori yang memberikan pemahaman kepada guru/pendidik/instruktur kepada peserta didiknya tentang pesan-pesan pelajaran yang bersifat konsep. Teori mengajar konsep muncul sebagai hasil dari telaah bagaimana seseorang guru berhasil menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didiknya melalui tahapan mengajar yang ia rencanakan.. misalnya dalam mengajarkan sesuatu yang sudah pasti kebenarannya, atau tentang sesuatu kebiasaan dimana peserta didik tidak mengalamii kesulitan bahwa ia harus membuktikan kembali atau menganalisisnya secara lebih komplek sehingga mengakibatkan konsep awal menjadi kabur. Dapat disimpulkan bahwa mengajar konsep adalah proses penyampaian pesan tentang materi pengajaran yang berupa konsep kepada peserta didik dalam suatu kesseluruhan proses mengajar.
-          Teori mengajar mencari dan menemukan
Teori mengajar yang dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa siswa memiliki kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dengan cara berpikir dan belajar sehingga ia mampu menemukan jawaban dan analisisnya sendiri hingga pada akhirnya mampu menjelaskan hasil belajarnya sendiri.
-          Teori mengajar kognitif
Teori mengajar ini disampaikan oleh Jean Piaget. Berawal dari suatu kondisi dan pengkondisian peserta didik dalam belajar pada tingkat dasar dan dapat juga sederhana.
C.     Definisi Mengajar
1)      Definisi yang lama : Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada peserta didik. Atau mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus. Siswa pasif hanya duduk manis mendengarkan ceramah guru. Siswa percaya begitu saja akan kebenaran kata-kata guru.
2)      Definisi dari DeQueliy dan Gazali, Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat.
3)      Definisi yang moderen di negara-negara yang sudah maju. “Teaching is the guidance of  learning”. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran dan guru hanya membimbing, memperlihatkan jalan dan memperhitungkan kepribadian siswa.
4)      Kilpatrik
Menunjukkan definisi mengajar yang tegas, dengan dasar pemikiran pada gambaran perjuangan hidup manusia, dengan menggunakan metode “problem solving”, dimana siswa dapat mengatasi kesulitan – kesulitan di dalam hidupnya.
5)      Alvin W. Howard
Mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah, dan mengembangkan skill, attitude, cita – cita, penghargaan, dan knowledge.
6)      A. Morrison D.Mc. Intyre
Mengajar adalah aktivitas personal yang unik.
7)      John R. Pancella
Mengajar dapat dilukiskan sebagai membuat keputusan dalam interaksi dan hasil dari keputusan guru adalah jawaban siswa atau sekelompok siswa, kepada siapa guru berinteraksi.
8)      Mursell
Mengajar digambarkan sebagai “mengorganisasikan belajar”, sehingga dengan mengorganisasikan itu, belajar menjadi berarti/bermakna bagi siswa.
9)      Waini Rasyidin
Mengajar yang dipentingkan ialah adanya partisipasi guru dan siswa satu sama lain. guru merupakan koordinator yang melakukan aktivitas dalam interaksi sedemikian rupa, sehingga siswa belajar seperti yang kita harapkan.
D.    Prinsip-Prinsip Mengajar
·         Perhatian : Di dalam mengajar, guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan oleh guru, dimana perhatian akan lebih besar bila pada siswa ada minat dan bakat.
·         Aktivitas : Penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa sendiri, kesannya tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikirkan, diolah, kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda. Dengan siswa berpartisipasi aktif, maka ia memiliki ilmu/pengetahuan dengan baik.
·         Appersepsi : Setiap guru yang mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa ataupun pengalamannya.
·         Peragaan : Dengan pemilihan media yang tepat dapat membantu guru menjelaskan pelajaran yang diberikan, juga membantu siswa mengerti dengan baik. penggunaan media juga akan lebih menarik perhatian siswa, lebih merangsang siswa untuk berpikir.
·         Repetisi : Bila guru menjelaskan suatu unit pelajaran, perlu diulang – ulang. Ingatan siswa itu tidak konsisten, sehingga pelajaran yang diulang akan memberikan tanggapan yang jelas, dan tidak mudah dilupakan.
·         Korelasi : Guru dalam mengajar wajib memperhatikan dan memikirkan hubungan antar mata pelajaran.
·         Kosentrasi ; Hubungan antar matpel dapat diperluas. Usaha konsentrasi pelajaran menyebabkan siswa memperoleh pengalaman langsung, mengamati sendiri, meneliti sendiri, untuk menyusun dan menyimpulkan pengetahuan itu sendiri.
·         Sosialisasi : Siswa perlu bergaul dengan teman lainnya, disamping sebagai individu. Dalam pembelajaran, dapat bekerja dengan kelompok untuk meningkatkan cara berpikir siswa sehingga dapat memecahkan masalah dengan lebih baik dan lancar.
·         Individualisasi : Siswa merupakan makhluk individu yang unik, dimana masing – masing mempunyai perbedaan khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah laku, watak, maupun sikapnya.
·         Evaluasi : Evaluasi dapat memberi motivasi bagi guru maupun siswa. Mereka akan lebih giat belajar dan meningkatkan proses berpikirnya.
Sedangkan Mursel mengemukakan 6 prinsip mengajar, yaitu :
1.      Konteks yang baik, dengan ciri – ciri dapat membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat, terdiri dari pengalaman yang aktual dan konkret, pengalaman dapat ditiru untuk diulangi dengan sifat yang sederhana.
2.      Fokus yang baik, dengan ciri – ciri memobilisasi tujuan, memberi bentuk dan keseragaman dalam belajar, mengorganisasi belajar sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan.
3.      Sosialisasi yang baik, dengan ciri – ciri fasilitas sosial, perangsang, dan kelompok demokratis.
4.      Individualisasi yan baik, dengan ciri – ciri perbedaan-perbedaan vertikal, perbedaan – perbedaan kualitatif.
5.      Sequence yang baik dengan ciri pertumbuhan itu bersifat kontinu, pertumbuhan tergantung dari tujuan, pertumbuhan tergantung pada munculnya makna, pertumbuhan merupakan perubahan dari penguasaan yang langsung menuju kepada kontrol yang jauh, pertumbuhan merupakan perubahan dari yang konkret ke arah yang abstrak, pertumbuhan sebagai suatu gerakan dari yang “kasar dan global” ke arah yang “memperbedakan”, pertumbuhan merupakan proses transformasi.
6.      Evaluasi, dilaksanakan untuk meneliti hasil dan proses belajar siswa, untuk mengetahui kesulitan – kesulitan yang melekat pada proses belajar itu.]

III. Pengalaman Belajar yang Berkaitan dengan Teori Belajar Mengajar.
Selama saya duduk di bangku sekolahan, saya menemui banyak guru dan bermacam-macam pula karakter mengajarnya. Saat kita SD pun mungkin belum menyadari pentingnya belajar bahkan belum mengetahui prinsip-prinsip belajar. Seperti definisi belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yaitu perubahan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun mulai memasuki kelas 5 SD, saya baru mengerti apa arti dan fungsi belajar. Saya menggunakan banyak cara belajar untuk menguasai materi yang diajarkan. Usaha yang saya lakukan seperti membaca ulang materi, meringkas menghafal dan mempraktekkan kembali apa yang di ajarkan. Dengan belajar kita akan mendapatkan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Merasakan pelajaran cukup mudah untuk dipahami.
Pada waktu saya duduk di bangku sekolah dasar cara guru mengajar cenderung hanya ceramah saja dan jarang sekali guru menggunakan alat peraga agar menarik perhatian siswa. Tetapi, siswa jaman dulu waktu saya SD hanya dapat patuh dengan semua perintah guru, jadi siswanya mengikuti saja apa yang diajarkan. Namun cara guru mengajar mulai berubah ketika saya kelas 5 SD, guru sering mengajak siswa belajar dengan mengunakan alat peraga dan memanfaatkan lingkungan sekolah dalam merealsasikan pembelajarannya, dan saat saya belajar di SMP dan SMA, siswa cenderung lebih aktif dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru sebagai alat evaluasi.
Perbedaan inilah yang mungkin dapat berubahnya suatu definisi mengajar, dari definisi lama yang menyatakan bahwa “Siswa pasif hanya duduk manis mendengarkan ceramah guru. Siswa percaya begitu saja akan kebenaran kata-kata guru” dan berkembang menjadi definisi mengajar moderen “Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran dan guru hanya membimbing, memperlihatkan jalan dan memperhitungkan kepribadian siswa”.





Rabu, 01 Februari 2012

Tugas 1 Strategi Pembelajaran


Salatiga, 11 Januari 2012
Nama   : Dewi Setianingsih
Nim     : 292010082
Kelas   : RS10C
Strategi dan Pembelajaran
Ilustrasi : Pada saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah setiap akan menghadapi ulangan atau tes semester, saya berpikir untuk menyusun strategi belajar, strategi belajar yang bagaimana agar saya bisa mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan usaha saya.
Dari ilustrasi diatas saya berpendapat, strategi itu dapat di artikan cara, taktik, metode, yang digunakan untuk mencapai tujuan tertantu dengan hasil yang maksimal. Sedangkan pembelajaran dapat diartikan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dengan siswanya atau pendidik dengan peserta didik di lingkungan sekolah, kelas atau dimana saja.
Jadi menurut saya Strategi Pembelajaran dapat diartikan suatu cara, taktik atau metode yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran/ mengajar sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai, yaitu siswa mampu menyerap atau menerima ilmu yang telah disampaikan oleh pendidik/guru.
Selama duduk di bangku sekolah saya sudah banyak menemui guru dengan karakteristik mengajar yang berbeda-beda, seorang guru dalam mengajar perlu memperhatikan dan memahami karakteristik kemampuan siswanya (ada yang kinestetik, visual, audiotori), sehingga pendidik/guru dapat menggunakan metode yang tepat dalam mengajar dan siswanya pun juga mudah memahami apa yang telah disampaikan oleh gurunya.
Siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh gurunya dengan metode yang melibatkan siswa aktif, seperti metode eksperimen. Contohnya dalam pelajaran IPA Biologi, pada bab sel tumuhan dan hewan, sebelum guru masuk dalam materi, siswa diajak untuk mengamati struktur sel tumbuhan menggunakan mikroskop kemudian menggambar sel yang terlihat. Dalam proses menggambar guru akan menjelaskan bagian-bagian sel pada tumbuhan tersebut. Dengan begitu bagi siswa yang audiotori(cara belajar mendengar), visual (cara belajar melihat), kinestetik (cara belajar dengan menggerakan anggota tubuh) atau pun yang visual audiotori dan kinestik dapat menerima pembelajaran dengan baik. Menurut saya kelebihan metode eksperimen atau prektikum, siswa tidak hanya dapat mengingat pada saat praktikum saja namun akan membekas pada ingatan mereka karena mereka pernah melakukan / mengamati langsung.
Pada pelajaran matematika SD tentang bangun ruang, guru memperlihatkan bangun ruang kubus namun sisi-sisinya dapat dibuka, tujuannya agar siswa dapat membuat bangun ruang (kubus) dengan melihat bentuk jaring-jaring kubus dengan menjelaskan jumlah sisi pada kubus. Setelah siswa dapat membuat kubus sendiri guru akan menjelaskan luas alas, luas permukaan dan volume. Guru yang kreatif dan dapat membuat suasana kelas menjadi nyaman, menyenangkan, serta mengajar menggunakan metode yang melibatkan siswa aktif sehingga siswa mampu memahami apa yang disampaikan oleh gurunya maka tujuan pembelajaran dapat tercapai.